Wednesday, January 18, 2017

TUHAN, KEBESARAN ALAM dan PUJIAN
Where is the future of the human race?

Insan fana mencari The Great dalam kebesaran alam, dan memujinya How Great Thou Art

Terlampir di akhir tulisan ini link ke video youtube madah agung berjudul HOW GREAT THOU ART, artinya BETAPA AKBAR DIKAU TUHAN.

Nikmati dan resapi pengagungan Tuhan lewat keterpesonaan terhadap berbagai fenomena ALAM dan JAGAT RAYA dalam madah besar ini, apapun agama dan keyakinan ideologis anda.

Setiap orang yang beragama dengan sehat, selalu ingin bersahabat, membuka hubungan baik dan penuh perhatian dan pengertian, terhadap alam dan segenap isinya, khususnya tentu saja terhadap sesama mereka, manusia. Mereka tidak tertahan juga ingin selalu memuji kebesaran Tuhan, menemukan keakbaran-Nya dalam segala fenomena alam dan jagat raya, misalnya dalam:
  • guntur yang bermain musik rock yang menggelegar; 
  • petir yang bercahaya sangat kuat sambil mengulurkan tangannya ke muka Bumi; 
  • bintang-gemintang di langit malam yang berkelap-kelip main mata; 
  • gunung-gemunung yang hijau biru yang anggun tegak berdiri semampai bak seorang bidadari yang sedang melambaikan tangannya ke anda; 
  • kicauan burung-burung yang seolah sedang menghibur anda di tengah kedukaan anda; atau 
  • angin yang berhembus semilir sepoi-sepoi mengusap punggung anda dengan lembut; dan seterusnya.
Orang yang bermental tidak sehat, maksudnya: mengalami gangguan batin dan pikiran, tidak bisa memuji dan membesarkan Tuhan, tapi memandang diri sendiri sebagai sang Tuhan sendiri, atau setara dengan Tuhan, atau minimal setengah manusia setengah dewa, demigod. Kata-kata dan sifatnya sendiri dilihatnya sebagai kata-kata dan sifat Tuhan, begitu juga sebaliknya.

Orang semacam itu bukan lagi makhluk, tapi telah meritualisasi diri sebagai sang khalik. Inilah orang yang sudah terjangkit DELUSION OF GRANDEUR atau WAHAM KEAKBARAN. Mereka sangat percaya pada sesuatu yang salah atau yang dikhayalkan mereka sebagai hal yang benar. Mereka taklid buta percaya bahwa diri mereka Superbesar Combo, Superhuman, Adimanusia, padahal faktanya mereka sangat kerdil bak belatung saja. Itulah delusi, megalomania, paranoia dan skizofrenia akut yang tak tertolong lagi. Orang yang semacam ini tidak akan bisa ikhlas dan tulus mengagungkan Tuhan yang mahaakbar. Sebab bagi mereka, yang agung itu ya diri mereka sendiri.

Nah, kita perlu dan harus menempuh jalan yang berbeda. Mengenal dan mencintai Tuhan mendorong orang mengenal dan mencintai alam dan jagat raya. Alam dan jagat raya dikenal dan diekspresikan lebih dari satu cara, misalnya lewat ritual agama, lewat karya senibudaya, dan terutama lewat ilmu pengetahuan alam (IPA) dan berbagai cabang ilmu lain.

Jika lewat ritual agama, mencintai Tuhan berarti juga memandang suci Gunung Semeru, Mount Everest, hutan-hutan, sungai-sungai, air terjun, lelautan, Matahari, bulan dan bintang-bintang, tetumbuhan, padi yang hijau yang kemudian menguning, dan lain sebagainya.

Bagi orang yang intuitif, berjiwa artistik, naturalis, kosmik, mistis, ekologis, environmentalis, dan memandang diri terikat dengan segala sesuatu, dengan alam dan Tuhan, seluruh benda dan kejadian yang ada dalam alam dan jagat raya ini memancarkan dan mewahyukan keagungan ilahi. Bahkan dalam keburukan-keburukan dan nestapa yang menimpa mereka dari berbagai kejadian alam, mereka masih berusaha menemukan tangan-tangan ilahi yang tidak pernah berlumuran darah dan kejahatan; tetapi, kita semua tahu, hasilnya lebih sering berupa permainan petak umpet dengan Tuhan.

Jika lewat karya seni budaya, mencintai Tuhan diungkap dalam berbagai cipta kreasi kesenian dan kebudayaan, lokal dan global, misalnya madah-madah besar, lukisan-lukisan hebat, patung-patung pahatan, tari-tarian, upacara-upacara sakral, ikon-ikon, kisah-kisah, dan seterusnya.

Jika anda mencintai Tuhan dan menemukan keakbaran-Nya dalam alam dan jagat raya, maka anda juga akan mencintai alam dan jagat raya. Jika kita mencintai sesuatu atau seseorang, kita pasti terdorong kuat untuk makin mengenal lebih luas dan lebih dalam lagi sesuatu itu atau orang yang kita sayangi itu.

Maka, barangsiapa mencintai Tuhan, orang itu akan juga mencintai SEMUA ILMU PENGETAHUAN yang menuntun kita ke pemahaman dan pengenalan yang makin dalam dan makin luas atas segala fenomena alam dalam jagat raya, lewat pengujian dan pertanyaan terus-menerus, verifikasi dan falsifikasi tanpa henti, dialektika tesis-antitesis-sintesis tanpa akhir.

Ilmu pengetahuan, dengan demikian, adalah jalan mulia menuju Tuhan yang kita cintai, yang kebesaran dan keagungan-Nya dinyatakan di mana-mana dalam alam dan jagat raya ini, yang menyediakan diri untuk diobservasi, dipelajari, diteliti, dipahami, dibongkar, dijelaskan, didatangi, dan dikuasai dan dipelihara.

Sebagai sebuah jalan menuju Tuhan, ilmu pengetahuan menuntun kita lewat jalan-jalan atau metode-metode yang berbeda dalam melangkah menuju Tuhan, dibandingkan jalan-jalan yang ditawarkan agama-agama.

Ilmu pengetahuan biasa bertanya dan meragukan dan menguji kembali segala klaimnya. Hanya dengan cara inilah ilmu pengetahuan tidak akan pernah bantut, mati atau punah, tapi terus hidup dan makin maju, berkembang dan bergerak ke arah-arah yang makin banyak dan beranekaragam. Dalam dunia ilmu pengetahuan, jalan tidak cuma ada satu, tapi banyak dan makin banyak sejalan dengan gerak waktu dan ruang.

Agama selama ini, faktanya, bersikap sebaliknya: anti-pertanyaan, anti-keraguan, anti-pengujian kembali atas semua keyakinan keagamaan yang sedang dianut. Segalanya diabsolutkan, tidak boleh dinisbikan kendatipun dunia dan peradaban sudah maju sangat jauh bak kereta api supercepat yang melesat kencang ke depan dengan semua rodanya tidak bergesekan dengan rel.

Jika itu situasi dan kondisinya, maka ilmu pengetahuan yang memang bukan agama, dan agama yang juga bukan ilmu pengetahuan, tidak mungkin dapat berjalan seiring di jalan masing-masing. Keduanya terus-menerus tercerai bahkan berbenturan keras. Apakah masih ada harapan? Masih!

Jika orang yang beragama mau mengakui bahwa TUHAN ITU MAHATAKTERBATAS, maka kita dapat menyatakan bahwa keduanya, ilmu pengetahuan dan agama-agama, adalah jalan-jalan yang berbeda menuju kebenaran-kebenaran yang tanpa batas, sebagaimana Tuhan itu adalah kebenaran yang tanpa batas, INFINITE.

Bukan cuma berbeda, tapi keduanya juga kerap berkonflik satu sama lain, berbeda atau berlawanan jalur dan arah, seperti halnya jalan-jalan raya: ada jalur kanan dan ada jalur kiri; ada arus ke utara dan ada arus ke selatan; ada belokan ke kiri dan ada belokan ke kanan; ada jalan U-turn tapi juga ada jalan buntu.

Konflik itu ada dan real bukan cuma antara agama dan ilmu pengetahuan, tapi juga antarklaim-klaim internal di dunia agama-agama sendiri dan antarklaim-klaim internal di dunia sains juga. Anda takut dengan konflik ini? JANGAN TAKUT!

Lewat perbedaan, konflik, pertentangan, dialektika, kita dalam dunia keilmuwan didorong untuk berpikir dan menguji lebih cerdas lagi dan lebih luas lagi dan lebih multidimensional lagi. Alhasil, kita dibawa ke kebenaran-kebenaran yang makin penuh, makin lengkap dan makin terintegrasi. Artinya, dilihat dari sudut keagamaan, kita makin dekat ke Tuhan yang mahatakterbatas dan makin mengenal-Nya lewat ilmu pengetahuan yang tidak pernah mencapai garis finish dalam menjelajah dan mengeskplorasi.

Begitu juga halnya dengan hidup beriman dalam dunia agama-agama. Iman yang tidak disertai pertanyaan, keraguan, pemeriksaan ulang, pembaruan, transformasi menuju tingkat kematangan yang lebih tinggi, pasti menjadi iman yang bantut dan mati.

Bukan cuma itu. Jika suatu agama dipandang sudah selesai, sudah mencapai garis finish, itu berarti dua hal: pertama, menyamakan agama itu dengan ketidakterbatasan atau Tuhan yang mahatakterbatas, atau, kedua, mereduksi ketidakterbatasan atau Tuhan yang mahatidakterbatas menjadi sebuah agama, apapun juga klaim umat penganutnya tentang agama mereka. Ingatlah, agama itu ada di dunia dan berguna hanya selama ada dalam dunia, sedang Tuhan ada di dunia dan di surga, abadi, memenuhi seluruh kawasan yang mahatakterbatas.

Jika iman keagamaan anda hidup, tidak bantut dan tidak wafat, iman anda akan dinamis, ada dalam gerak perubahan dan transformasi terus-menerus, progresif, menuju peringkat yang lebih maju, lebih jauh, lebih berwawasan, dan terus tumbuh tanpa akhir menuju Tuhan yang tak memiliki akhir, yang kita akui mahatakterbatas.

Sekalipun metode menuju kebenaran dalam ilmu pengetahuan dan dalam agama berbeda, tapi jika anda beriman dengan dinamis dan terbuka pada pembaruan tanpa akhir, cara beriman anda ini sejalan dengan cara para ilmuwan mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan. Jika ini yang menjadi posisi dan sikap anda dalam beragama, maka terbuka peluang untuk anda sebagai para agamawan membuka percakapan dan dialog terus-menerus dengan para ilmuwan.

Jika itu posisi anda sebagai agamawan yang terus bergerak maju ke depan tanpa akhir, bukan berlari mundur jauh ke belakang lalu karam di lelautan masa lampau di tempat yang jauh, maka anda bukan saja ingin masuk surga setelah kematian, tapi juga mendukung eksplorasi dan penjelajahan angkasa luar, mula-mula dalam batas kawasan sistem Matahari kita, selanjutnya ke dunia antarbintang BEYOND THE SOLAR SYSTEM OF OURS.

Di luar sana, di atas sana, OUT AND UP THERE IN THE DEEP SPACE, kita tak lama lagi akan membangun rumah-rumah kedua, ketiga, keempat dst, yaitu di planet-planet lain yang sudah disiapkan sebelumnya oleh para ilmuwan dan teknolog yang mengkaji angkasa luar.

The future of the human race is out there, in the deep oceanic outerspace! 

Dus, sebagai bangsa Indonesia yang telah lama mengaku diri sebagai bangsa bahari, sejak sekarang kita perlu memandang bahari bukan hanya lelautan di muka Bumi, tetapi juga lelautan kosmik di angkasa luar yang dalam dan luas tanpa batas. 

Ke sana, di masa depan yang dekat, kita harus sudah bisa berlayar, menjelajah jauh ke kedalaman samudera kosmik tanpa tepi, dengan wantariksa-wantariksa buatan kita sendiri.

Di sana, kita akan bisa bangun negeri Indonesia kedua, ketiga, dan seterusnya, dan barang-barang tambang baru menanti kita di sana untuk ditambang. 

Kita akan berpacu dalam melodi-melodi kosmik yang indah dan menawan.  

OK, nikmatilah madah hebat HOW GREAT THOU ART di video youtube ini yang dilantunkan dengan memukau oleh Carrie Underwood https://youtu.be/q2T1csHUgF4.

Jika anda ingin juga mengikuti liriknya, tersedia di sini (dinyanyikan oleh Chris Rice) https://youtu.be/Cc0QVWzCv9k.

Silakan share.

18 Januari 2017

Aku,
ioanes rakhmat

Sedang menuju galaksi Andromeda
dengan berjalan kaki di ruang hampa kosmik
The Skywalker

Saturday, January 7, 2017

ALHAMDULILAH!
Thank you Jesus! Thank you Mother Mary!

Saya mulai dengan sebuah kata yang enak didengar: Untung.

Untung di kekristenan ada KEPERCAYAAN bahwa Yesus Kristus tidak menikah, mati muda di tangan kolonial Romawi. Ihwal bagaimana fakta sejarahnya, biarlah orang bebas cari tahu sendiri. Lagipula, apapun fakta sejarahnya yang bisa diungkap, orang Kristen umumnya memilih untuk mempertahankan keyakinan itu, bahwa Yesus tidak pernah kawin dan tidak pernah punya keturunan.

Yang sudah jelas dan pasti, ini: Tak pernah ada kasus apapun, sejak kekristenan lahir hingga kini, tentang orang yang mengklaim atau diklaim sebagai SEDARAH SEDAGING dengan Yesus, sebagai KETURUNAN ke sekian Yesus. Kalau Yesus punya keturunan darah dagingnya sendiri yang juga punya keturunan lagi dst, dst, waah bisa rame juga tuh dunia ini dengan klaim-klaim yang diajukan orang bahwa mereka keturunan Yesus.

Kalau itu terjadi, wah kejadiannya bisa jauh lebih rumit lagi kalau orang menyamakan KRISTOLOGI dengan BIOLOGI.

Jelas, Yesus diberi banyak gelar oleh gereja-gereja awal dulu. Gelar paling puncak diberi kepada Yesus ketika Yesus dipercaya dan diseru sebagai Tuhan (Yunani: kurios), bukan sekadar tuan. Maka sebagai Tuhan, kalau Yesus punya anak dan cucu dan cicit dst dst dst, orang-orang yang mengklaim diri sebagai keturunan Yesus pun akan diberi atau memakai gelar Tuhan untuk mereka sendiri-sendiri. Tuhan melahirkan Tuhan melahirkan Tuhan melahirkan Tuhan, dst.

Kondisi ini berubah jadi jauh lebih runyam, ketika, dengan tanpa pengetahuan, alias dengan naif, kristologi diubah begitu saja jadi biologi dan juga jadi ginekologi atau ilmu kandungan dan kebidanan.

Dengan diubah begitu, olok-olok pun muncul: Loh Tuhan melahirkan Yesus sebagai Anak Tuhan, bahkan bukan cuma sebagai Anak, tapi sebagai Tuhan sendiri. Kok Tuhan Kristen bisa hamil, mengandung? Di situlah kristologi diubah jadi biologi dengan aneh dan tidak wajar. Si pengubah jelas tak tahu, gelar Anak Tuhan atau gelar Tuhan ada dalam dunia teologi, persisnya dunia kristologi.

Mungkin sekali si pengolok itu tidak paham apa itu kristologi. Baiklah saya dengan rendah hati mau bantu memberi penjelasan, diterima alhamdulilah, tidak diterima juga alhamdulilah. Saya tidak mau ucapkan kata astagafirullah.

Kristologi itu masuk wilayah teologi, dan semua teologi masuk wilayah IDEOLOGI, bukan wilayah sains.

Ambil contoh. Pancasila NKRI itu ideologi. Kebenaran dan keabsahan Pancasila tidak dibuktikan lewat mikroskop atau lewat tes kehamilan atau tes DNA, pendek kata: tidak lewat biologi dan ginekologi atau genetika.

Pancasila menjadi ideologi yang benar dan sah bagi NKRI dibuktikan dengan cara lain: yakni, paling tidak, memastikan keabsahan sidang yang dulu pertama kali menetapkannya sebagai ideologi NKRI, dan menunjukkan efektivitas dan kekuatannya untuk selama berpuluh-puluh tahun hingga kini menjadi ideologi pengikat dan pemersatu bangsa Indonesia yang secara sosiokultural dan sosiopolitik majemuk.

Karena efektif menjadi landasan kehidupan yang berbhinnekatunggalika dalam wadah NKRI, maka Pancasila bukan saja ideologi yang absah, tapi juga ideologi yang benar dan fungsional bagi NKRI. OK ya, cukup segitu saja dulu dengan Pancasila.

Tapi kalau seorang perempuan mau hamil atau sedang hamil, untuk memastikan apakah dia bisa hamil atau sedang hamil, maka orang masuk ke BIOLOGI dan bidang-bidang ilmu lain yang berkaitan yang dibutuhkan (misalnya ilmu medik, ilmu pengobatan, genetika, ginekologi, dll).

Berbagai test kehamilan harus dijalankan dengan memakai bermacam-macam instrumen dan media. Kalau mau tahu lagi sebelum hari kelahiran tiba apakah janin yang sedang berkembang itu betul sehat, atau mau tahu jenis kelaminnya apa, ya biasanya mesin USG dipakai untuk mendapatkan citra USG dari kondisi rahim si ibu dan janin yang ada di dalamnya (termasuk jenis kelaminnya yang tidak selalu tepat ditafsir seorang dokter kandungan atau ginekolog) yang akan berkembang bertahap untuk akhirnya, setelah 9 bulan ada dalam rahim, dilahirkan.

Kalau sang suami ragu bahwa bayi yang sudah memberojol keluar dari liang rahim isterinya betul darah dagingnya sendiri, ya test yang jauh lebih rumit dan berbiaya mahal, yakni test DNA, harus dijalankan, dengan harapan rumahtangga pasangan suami-isteri ini tidak akan hancur apapun hasil test DNA-nya.

Nah, kristologi bukan biologi, bukan ginekologi, bukan ilmu kedokteran kandungan, juga bukan ilmu kebidanan, juga bukan genetika.


Bayi Yesus Papua dilahirkan. Dilawat oleh seekor babi hutan, burung unta, para pria Papua, lengkap dengan gendang dan tombak Papua, dan juga perempuan yang tidak ber-BH, dan beberapa perempuan lain, yang masing-masing mengenakan mahkota bulu burung yang indah. Bunda Maria Papua sendiri mengenakan rok merang.

Biologi dan ginekologi dan genetika itu sains, ilmu pengetahuan empiris; orang-orang yang mendalami dan mengembangkan ilmu-ilmu ini, dan biasanya sudah menyelesaikan studi doktor lalu meraih gelar akademik Ph.D. (doctor of philosophy), disebut sebagai ilmuwan atau saintis.

Gelar Ph.D. sendiri tidak tunggal. Ada Ph.D. di bidang fisika, di bidang kimia, di bidang kosmologi, di bidang matematika, dst di bidang-bidang ilmu lain yang lazimnya digolongkan sebagai IPA atau natural sciences. Tapi ada juga Ph.D. di luar bidang-bidang keilmuwan yang sudah disebutkan itu.

Universitas-universitas di luar negeri yang punya fakultas teologi atau fakultas kajian lintasilmu terhadap agama juga ada yang memberi gelar Ph.D. kepada mahasiswa yang studi di situ dan sudah menyelesaikan studi doktor mereka dalam rentang waktu 4 hingga 6 tahun, dengan puncaknya menulis sebuah karya ilmiah besar dan orisinal yang disebut disertasi dan harus mampu mempertahankannya di hadapan para mahaguru penguji.

Tetapi gelar Ph.D. bukan sebuah penjamin bahwa para penyandangnya adalah ilmuwan atau saintis. Banyak penyandang gelar Ph.D. akademik sebetulnya cuma pantas bekerja di perusahaan PHD, Pizza Hut Delivery, bagian pengantaran pesanan

Nah, para sarjana Kristen yang bergelar Ph.D. setelah mereka menyelesaikan studi doktoral mereka di luar negeri, misalnya di bidang kristologi, tidak disebut sebagai “scientists” (para ilmuwan), tapi sebagai “scholars”, yaitu kalangan yang “terpelajar” karena telah menamatkan sekolah mereka hingga jenjang stratum 3.

Nah, para pelajar yang telah mendalami kristologi dan berhasil memperoleh gelar Ph.D. ini, yang lazim juga disebut sebagai para kristolog (para ahli kristologi), tentu tahu betul bahwa “kristologi” (dibentuk dari dua kata Yunani “khristos” dan “logos”) itu adalah ajaran atau doktrin ideologis tentang Yesus Kristus: siapa Yesus, dan apa makna, arti, tujuan dan maksud kehidupan Yesus, bagaimana hubungan Yesus dengan Allah, manusia dan dunia ini harus diungkap dan dibahasakan, di masa lalu, bagi masa kini dan untuk masa depan, dll.

Kristologi dibangun tidak lewat mikroskop, tidak lewat biologi, tidak lewat test kehamilan, tidak lewat ginekologi, tidak via genetika, tidak memakai ilmu kodekteran, ilmu kandungan dan kebidanan. Kristologi adalah ungkapan lewat bahasa insani tentang siapa, apa dan bagaimana Yesus Kristus itu, yang berisi cinta, pemujaan, penyembahan, kepercayaan, keyakinan, pengakuan, kerinduan, harapan, gelora komitmen, dan tafakur atau refleksi yang tak pernah habis terhadap Yesus Kristus.

Pada waktu kristologi dirumuskan, rumusannya dapat memakai wadah jenis sastra apapun (misalnya kisah-kisah yang dikenal sebagai injil, kumpulan ucapan-ucapannya, atau himpunan riwayat tindakan dan perbuatannya, metafora linguistik, dan juga lewat berbagai wujud karya senibudaya, dll).

Ketika disusun, setiap penyusun kristologi perdana dengan bebas memakai dan neminjam banyak hal dari sastra-sastra lain yang lazim ditemukan dan digunakan di dunia pagan Laut Tengah kuno dalam abad-abad pertama M di berbagai kawasan yang memiliki kekhasan dan persoalan sosiokuktural, sosiofilosofis, sosioantropologis dan sosiopolitis sendiri-sendiri.

Alhasil, kristologi itu tidak satu meskipun sosok Yesus orang Nazareth sebagai sosok sejarah cuma ada satu. Ada banyak kristologi, dan hingga di abad ke-21 ini kristologi-kristologi yang baru terus disusun dan dikiprahkan di sangat banyak tempat dan di era yang berbeda.

Itulah kekuatan kristologi-kristologi Kristen sedunia: tidak dikurung di masa kelahiran kekistenan dan tidak dipasung di Timteng kuno dan di kawasan Laut Tengah zaman kuno. Tetapi terus-menerus Yesus Kristus dibuat lahir kembali dalam palungan-palungan masyarakat-masyarakat dan bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa yang berbeda-beda dari satu zaman ke zaman lain, dari satu kawasan ke kawasan lain.

Kristologi Natal adalah salah satu saja dari beranekaragam kristologi lain yang ada dalam Alkitab Perjanjian Baru. Kisah kristologis Natal hanya ada dalam Injil Matius dan Injil Lukas, dan kisah-kisah Natal dalam dua injil ini tidak sama. Penulis Injil Markus sebagai injil tertua (ditulis tahun 70 M) tidak merasa perlu memuat kisah Natal, berbeda dari penulis Injil Matius dan penulis Injil Lukas (keduanya ditulis sekitar tahun 80-85 M). Penulis injil yang keempat, Injil Yohanes, juga tidak memuat kisah kelahiran Yesus di dalam injilnya, dan sebagai gantinya injil ini dibuka dengan kisah protologis, yaitu kisah iman tentang hal-hal yang ada “pada mulanya”.

Ada banyak kristologi, sejak zaman Perjanjian Baru ditulis, hingga abad ke-21. Semuanya bukan biologi, bukan ginekologi, bukan genetika, bukan sejarah murni.

Ketika diberitakan dalam kisah-kisah Natal Perjanjian Baru bahwa Bunda Maria mengandung janin Yesus meskipun dia tidak punya seorang suami, kisah-kisah ini sama sekali bukan catatan-catatan medis seorang dokter kandungan atau ginekolog atau ibu bidan tentang Bunda Maria. Kisah-kisah itu adalah kristologi yang pesannya jelas betul (dan tidak asing bagi orang yang hidup di Laut Tengah kuno pada abad-abad pertama M): Yesus sejak dikandung adalah sosok yang suci. Yesus ada dalam dunia karena Allah, bukan manusia, yang berinisiatif, dus Yesus berasal dari Tuhan Allah.

Memakai ungkapan prolog Injil Yohanes, dipesankan bahwa Yesus berasal dari surga, yang dari kebersamaannya dengan Allah di surga sejak “pada mulanya”, Yesus datang atau turun ke dalam dunia sebagai Sang Kalam (Yunani: ho logos) yang menjelma atau menitis sebagai manusia, “menjadi daging” (Yunani: sarks egeneto).

Sekali lagi, itu adalah bahasa teologis atau lebih tepat METAFORA TEOLOGIS, yang berfungsi untuk menghubungkan kawasan surga dengan kawasan dunia insani, lewat roh kudus via Bunda Maria atau lewat Sang Kalam yang menjelma. Metafora itu artinya wadah sastra yang membawa orang dari satu kawasan pindah ke kawasan lain. Dalam metafora teologis, ditemukan bukan terminologi biologis atau ginekologis atau genetis.

Dalam menyusun metafora teologis ini, tak ada pikiran sama sekali dulu dan kini, bahwa Allah hamil, atau Allah membuntingi Bunda Maria, dan juga tidak pernah ada pertanyaan yang ganjil bahwa jikalau Tuhan hamil untuk melahirkan Anak Tuhan, maka siapa bidannya.

Akhirulkalam, runyam, runyam jadinya, ketika pertanyaan di atas yang ganjil itu dilontar ke publik oleh seseorang yang sangat tampak tidak memahami karakteristik esensial semua metafora teologis. Belajar lagi deh hingga ke negeri China, malah hingga ke dunia antarbintang.

7 Januari 2017

Salam, 

Di musim salju dingin
Meski dingin membeku 
hati dan akalku hangat kuku
sehangat es krim Dairy Queen

ioanes rakhmat

Monday, December 19, 2016

Natal dirayakan juga oleh Muslim di Timteng!

Natal sebetulnya telah menjadi suatu acara perayaan kultural yang mengglobal. Tidak lagi terbatas di gereja-gereja dan keluarga-keluarga Kristen. Juga tidak terbatas dan meriah hanya di Barat. Hanya dengan menjadi bagian dari kebudayaan dunia, menjadi agama dunia, bukan agama suku/keluarga/klan (yang dinamakan henoteisme), suatu agama berpeluang besar bertahan hidup sangat lama.

Para Muslim di Timteng juga merayakan Natal sebagai suatu acara kegembiraan, kemeriahan dan kesukaan sambil berkumpul sebagai keluarga-keluarga Muslim. Di pusat kota-kota mereka dibangun pohon-pohon Natal yang besar dan diadakan juga acara-acara yang meriah, dengan lampu-lampu yang gemerlapan berkilauan di jalan-jalan dan di toko-toko, di mal-mal, di alun-alun, dan juga lengkap dengan kehadiran sinterklas dll.

Mereka percaya diri, tidak paranoid, dan tidak merasa atau melihat agama Islam mereka sedang diserang atau terancam. Mereka melihat Natal sebagai suatu perayaan kultural yang inklusif, yang ke dalamnya mereka masuk dengan ikhlas dan riang. Mereka juga tidak melihat keperluan atau jebakan untuk murtad. No apostasy at all! Hanya dengan mindset semacam ini, orang baru dapat beragama dengan relaks dan gembira, dan memberi kegembiraan dan kelegaan bagi dunia luas, bagi masyarakat, keluarga dan diri sendiri. Pasti ada yang keliru jika agama saya menimbulkan rasa sesak dan engap pada orang yang menganut kepercayaan-kepercayaan berbeda.

Ikuti salah satu video yang menayangkan para Muslim Timteng merayakan Natal; ini link-nya https://m.youtube.com/watch?v=6Mwv8i4OmAU.

Berikut ini foto-foto yang saya ambil dari video di youtube tersebut. Ada 8 foto yang saya ambil.

















HAVE A VERY MEELAD MAJEED!
Selamat hari Natal. Selamat bergembira. Selamat bermandikan cahaya.

Bagaimana kondisinya di Indonesia? Mustinya kita lebih maju dari negeri-negeri Muslim di Timteng. Mustinya loh.

Jakarta, 19 Desember 2016
ioanes rakhmat

Friday, December 16, 2016

De-Extinction: Menghidupkan kembali yang sudah punah!


Mammoth dan Tyrannosaurus rex (T-Rex)

Tahukah teman-teman bahwa sekarang ini kita kehilangan 30 sampai 150 spesies SETIAP HARI dari semua spesies hewan yang diketahui hidup di planet Bumi?

Kepunahan ini 1.000 kali lebih tinggi jika dibandingkan yang terjadi sebelum Homo sapiens, manusia cerdas, mengatur Bumi dan kehidupan.

Sejak era prasejarah, kitalah, manusia, biang keladi utama kepunahan besar hewan-hewan nonmanusia lewat: perusakan habitat; perubahan iklim akibat perbuatan manusia; polusi; perburuan liar; dll.

Kepunahan hewan-hewan ini oleh para ilmuwan dinamakan Mass Extinction, atau Kepunahan Massal. Manusia jadinya memikul tanggungjawab moral untuk mencegah atau mengatasi kepunahan ini, bukan hanya demi hewan-hewan lain, tapi juga untuk masa depan yang lebih sehat dan lebih berdayatahan umat manusia sendiri. 

Untuk mengatasi Kepunahan Massal ini, para ilmuwan menyusun dan menjalankan metode atau teknik pelanggengan spesies yang sudah punah atau yang terancam segera punah, yang dinamakan metode DE-EXTINCTION, atau metode pencegahan kepunahan. Metode ini bertujuan untuk menghidupkan kembali spesies hewan-hewan yang telah punah atau membuat klon-klon hewan-hewan yang segera punah.

Metode DE-EXTINCTION melibatkan beberapa cabang sains-tek bersamaan, yakni teknik reproduksi yang dibantu, biologi stem cell, dan pengeditan gen (yang dikenal dengan nama DNA-editing CRISPR Cas9 yang semakin maju dan bervariasi). Dengan metode ini, bukan saja spesies-spesies lama yang sudah punah dapat dihadirkan lagi, tapi juga kita dapat mempertahankan dan melestarikan spesies-spesies yang sudah sangat langka dan terancam segera punah dari planet kita. 

Kalau sudah berhasil dihidupkan lagi, hewan-hewan yang pernah punah itu akan ditempatkan di lingkungan habitat masing-masing di era modern dan di sana mereka akan berinteraksi positif dengan lingkungan alam mereka; alhasil ekosistem-ekosistem yang juga terhubung dengan kehidupan sehat Homo sapiens akan dapat dipulihkan jika sebelumnya sakit, rusak atau sudah sekarat. 

Anda pasti bertanya, metode DE-EXTINCTION sudah diterapkan sejauh mana saat ini? 

Hingga saat ini DE-EXTINCTION yang sedang menarik perhatian tengah diupayakan terhadap hewan mirip gajah tapi bertubuh besar, berbulu lebat dan panjang, dan memiliki dua taring yang panjang dan melengkung ke atas. Nama hewan besar dan kuat ini mammoth atau mamut yang pernah hidup di Zaman Es atau Pleistocene Era yang mulai berlangsung 1,8 juta tahun lalu hingga kurang lebih 11.700 tahun lalu. Di era ini bagian besar muka Bumi tertutup lapisan sungai es atau gletser. 

Selain itu, metode DE-EXTINCTION sejauh ini juga sudah dan sedang digunakan terhadap: 

• badak putih raksasa di Afrika yang kini cuma tersisa 3 ekor;
• sejenis musang berkaki hitam di Amerika Utara yang sedang terancam punah karena penyakit dan ketidakmampuan untuk berkembangbiak;
• kodok yang mengerami telur-telur di dalam perut mereka. Kodok ini memiliki mekanisme biologis untuk menghentikan produksi enzim-enzim perut yang bisa melumatkan telur-telur yang akan menetas dan anak-anak mereka yang baru jadi. Para ilmuwan medik kini sedang mempelajari mekanisme penghentian produksi enzim pada kodok ini untuk kelak digunakan bagi penyembuhan radang dan borok dalam organ-organ perut manusia;
• kambing gunung bukardo yang pernah hidup di kawasan pegunungan Pyrenia yang memisahkan Prancis dan Spanyol. Satu ekor terakhir bukardo, betina, yang diberi nama Celia, mati karena penyebab alamiah. Sewaktu masih hidup para ilmuwan sempat mengambil sel-sel Celia, yang kemudian diklon; lahirlah anaknya yang berwarna coklat. Sayangnya, anak kambing gunung terakhir ini mati beberapa menit setelah dilahirkan akibat problem pernafasan;
• guagga, yakni seekor hewan yang hidup di Afrika, mirip zebra yang ganjil. Strip pada bagian punggungnya jarang;
• aurokh, spesies pendahulu sapi modern, dengan tanduk yang besar;

Mungkin teman-teman sudah berpikir bahwa lewat teknik DE-EXTINCTION era Jurassic akan bisa dikembalikan ke zaman modern kini. Film fiksi buah tangan Steven Spielberg Jurassic Park atau Jurassic World segera akan menjadi fakta yang real di abad ke-21 ini. Apa reaksi anda? Galau? Gamang? Takut? Atau malah antusias?

Sayangnya, sejauh ini para ilmuwan baru bisa menerapkan metode DE-EXTINCTION hanya ke DNA yang umur maksimalnya 1 juta tahun, sebab setelah lewat 1 juta tahun DNA-DNA hewan-hewan purba hancur dengan sendirinya. Kita tahu dinosaurus punah 66 juta tahun lalu karena bencana alam yang merusak semua ekosistem di Bumi akibat sebuah meteor besar seukuran kota Manhattan menumbuk muka Bumi di Semenanjung Yukatan yang kini dikenal sebagai Meksiko. 

Tapi di masa depan para ilmuwan tentu akan mampu merekonstruksi DNA-DNA purba yang sudah hancur dan rusak. Hewan-hewan purba yang keras dan berbahaya pun yang sudah punah kelak akan bermain-main bersama anak-anak manusia di generasi-generasi yang akan datang.

Orang-orang besar dengan prestasi-prestasi cemerlang bagi peradaban manusia, yang sudah mati, juga dapat dihadirkan lagi di hadapan anda sekarang hidup-hidup untuk mereka melanjutkan tugas-tugas agung mereka. Bukankah luar biasa hebat jika Albert Einstein atau Plato hadir lagi atau dilahirkan kembali seutuhnya tahun 2017 atau sepuluh tahun lagi?

Nah, apakah semua ini “a good news” ataukah “a bad news”? Jawablah sendiri IN THE SILENT.


Sumber http://www.nbcnews.com/mach/innovation/why-extinction-doesn-t-have-be-forever-anymore-n696106

Jakarta, 16 Desember 2016
ioanes rakhmat

Friday, December 9, 2016

Meteor jatuh dan meledak...

Sebuah meteor yang tidak terlalu besar (berdiameter sekitar 10-15 m) telah jatuh dan meledak terang-benderang di atmosfir di atas kota Sayonogorsk, Republik Khakassia, Siberia, Rusia, Selasa sore, pukul 18:32, 06 Desember 2016. Karena ledakan berkilau meteor ini, kegelapan berubah sekejap menjadi terang seperti di siang hari. Banyak penduduk yang ketakutan, karena mereka mengira sebuah bom telah dijatuhkan ke kota mereka. Sumber berita tentang meteor Sayanogorsk tersedia antara lain di http://www.sciencealert.com/watch-a-stunning-fireball-just-lit-up-the-sky-in-siberia.


Meteor Sayonogorsk ini beberapa kali lebih kecil dibandingkan meteor yang pernah jatuh dan meledak di udara di atas kota Chelyabinsk, Rusia, 20 km dari permukaan Bumi, tahun 2013. Ledakan meteor Chelyabinsk ini menimbulkan gelombang kejut yang energinya berkekuatan 30 kali (= 500 kiloton) kekuatan bom atom yang pernah dijatuhkan di kota Hiroshima pada PD II dulu. Gelombang kejut yang kuat ini, di tahun 2013, merusak ribuan bangunan dan melukai kurang lebih 1.500 orang lewat pecahan kaca dan cahaya sangat terang yang dipancarkan meteor Chelyabinsk ini.

Tiga tahun sesudah meteor Chelyabinsk menerjang Bumi yang disertai ledakan, para ilmuwan masih belum bisa memastikan asal-usul meteor ini. Baca laporannya di http://earthsky.org/space/chelyabinsk-meteor-mystery-3-years-later.


Berita tentang meteor Sayonogorsk ini saya telah pasang sebelumnya di tiga akun Facebook saya. Dari berbagai respons teman-teman di akun kedua FB saya, ada respons yang meminta saya untuk menjelaskan apakah betul sebuah meteor bisa meledak di angkasa, sebab yang diketahuinya selama ini adalah bahwa sebuah meteor hanya akan terbakar, lalu berantakan, dan pecahan-pecahannya akan jatuh ke Bumi.

Meteor Chelyabinsk tahun 2013. Hingga kini masih diselimuti kabut misteri....

Saya sudah tanggapi permintaannya itu. Bahwa sebuah meteor bisa meledak kencang di angkasa adalah fakta, dan sudah terjadi lebih dari satu kali. Yang terkenal adalah apa yang dinamakan Peristiwa Tunguska di tahun 1908, ketika sebuah meteor meledak beberapa km di atas permukaan Bumi dengan melepaskan energi antara 5 hingga 30 Megaton TNT (sebanding dengan energi sebuah bom hidrogen). Energi meteor Tunguska ini merobohkan sangat banyak pohon di kawasan-kawasan dengan radius berkilo-kilo meter dari titik ledakan, tanpa meninggalkan lubang besar atau kawah di muka Bumi.

Berikut ini penjelasan yang saya sudah saya berikan kepada teman yang bertanya itu. Simaklah dengan baik.

Itu sebuah pertanyaan bagus yang membuat saya sadar atau engeh bahwa peristiwa fisika MELEDAKNYA sebuah meteor yang cukup besar di saat masuk ke Bumi dengan menabrak lapisan atmosfir, masih banyak yang belum tahu atau belum memahami atau tidak meyakini.

Saya memikirkan dan mencari sebuah analogi yang sederhana yang mendekati kejadian sebuah meteor menerjang Bumi, begini: lemparkanlah sebuah balon cukup besar yang berisi air cukup banyak dan juga udara ke sebuah dinding, dengan tenaga lemparan (energi kinetik) yang sangat kuat dan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hasilnya: balon itu akan hancur dengan air berhamburan ke mana-mana dan membuat suara ledakan layaknya sebuah balon meledak.

Kekurangan analogi di atas, dinding atau tembok tidak menimbulkan energi panas yang besar, lain halnya dengan lapisan atmosfir.

Sekarang saya berikan penjelasan yang teknis. Sebuah meteor meledak di udara karena kombinasi dan akumulasi berurutan peristiwa-peristiwa fisika dan mekanika berikut:

Pertama, kecepatan melesat sebuah meteor itu tinggi (11.000 m per detik hingga 72.000 m per detik). Ini menghasilkan energi kinetik. Ingat, kecepatan itu juga sebuah bentuk atau wujud energi, persisnya energi gerakan. Kecepatan meteor mencakup kisaran yang luas karena, ingatlah, bahwa planet Bumi kita juga bergerak mengorbit bintang Matahari dengan kecepatan 30.000 m per detik. Jika datang di pagi hari ke Bumi, sebuah meteor bergerak lebih cepat dibandingkan jika datang pada sore atau malam hari.

Kedua, friksi atau gesekan yang kuat terjadi saat sebuah meteor dengan kecepatan tinggi menembus lapisan atmosfir. Ketika friksi terjadi, energi kecepatan terkompresi sangat kuat. Akibatnya, suhu meteor meningkat atau memanas (seperti yang terjadi pada bagian bawah tabung pompa sepeda jika udara terkompresi terus-menerus dalam bagian ini ketika kita sedang memompa sebuah ban sepeda), dan energi kinetik berubah (tidak lenyap) menjadi energi panas dan energi tumbukan (Momentum: massa dikali velositi atau kecepatan).

Ketiga, umumnya di dalam sebuah meteor (bukan sebuah meteorit) yang cukup besar atau yang sangat besar terdapat kandungan air atau kandungan CO2 padat beku yang akan mendidih saat meteor ini menabrak atmosfir. Mendidih berarti menyimpan energi panas yang besar.

Keempat, kombinasi tiga faktor di atas pada akhirnya bermuara sebagai sebuah ledakan yang mengubah energi kinetik, energi momentum, dan energi suhu didih kandungan sebuah meteor, menjadi energi gelombang kejut yang tersebar dengan mengeluarkan suara ledakan.

Pada prinsipnya, sebuah meteor meledak karena satu hukum fisika saja: kekekalan energi atau the law of the conservation of energy.  

Ada juga seorang teman lain di akun pertama FB saya yang berharap bahwa di Indonesia sebuah meteor cukup besar jatuh dengan menimbulkan ledakan dan cahaya kemilau, supaya penduduk Indonesia tidak meributkan hal-hal yang hanya dicari-cari seperti sedang terjadi saat ini, tetapi tekun mempelajari hal-hal yang terkait dengan angkasa luar dan benda-benda langit. Kepadanya saya memberi respons.

Begini: Ya saya juga menunggu sebuah meteor raksasa meluncur dengan kecepatan tinggi ke Laut Jawa. Akibatnya, mungkin bangsa ini jadi bersatu dalam menghadapi tsunami dahsyat yang akan menenggelamkan Nusantara, ketimbang kita terus-terusan tenggelam dalam soal yang gak membuat kita maju. Tapi.... jangan deh meteor yang saya tunggu itu datang menerjang kita. Sebab jika itu terjadi, seperti telah terjadi 66 juta tahun lalu yang membuat berbagai jenis dinosaurus punah, ya mamalia cerdas yang diberi nama Homo sapiens akan punah dan musnah. Gak akan ributin agama-agama lagi.

Jakarta, 09 Desember 2016
ioanes rakhmat